PEMBUKA

"Suluhidup" merupakan blog yang berisi tentang tulisan-tulisan firman Tuhan yang semoga dapat menjadi suluhidup bagi masing-masing pembacanya......

Cari Blog Ini

Selasa, 07 November 2017

JANGAN ASAL HIDUP, HIDUPLAH UNTUK HIDUP JANGAN HIDUP UNTUK BINASA Oleh : Edison Siringoringo


Manusia jaman sekarang ini maunya semua serba instan, gak mau capek mikir masa depan atau mikir nasib setelah mati. Hidup hari ini cukup untuk hari ini. Hidup dijalani ala kadarnya gak pusing dengan kwalitas hidupnya. Melulu mikirin duniawi, masalah akhirat nanti nantilah dipikirin. Atau liat gimana nantinya aja. Lebih takut dengan himpitan duniawi. Kenapa bisa begini ya……?, mungkin karena manusia itu lebih menggunakan realistis berpikirnya ya. Manusia berpikir kenapa harus capek mikirin yang gak jelas, masalah akhirat itu masalah yang tak jelas. Kenapa tidak jelas, karena realistis itu lebih memerlukan logika dan bukti daripada hanya sekedar kata-kata dan andai-andai. Memang untuk bicara kerohanian yang kita punya hanya tulisan dan iman. Iman itu lebih menjelaskan keadaan kepercayaan/keyakinan akan sesuatu yang tidak kita lihat, tapi bisa kita rasakan.
Nah karena fakta mendasar inilah makanya manusia cenderung untuk lebih memilih melakukan kegiatan-kegiatan duniawinya daripada rohaninya. Fakta-fakta mendasar manusia untuk bertahan hidup menjalani kehidupan yang keras memang tak dapat dipungkiri. Tapi pernahkah kita berpikir untuk apa kita hidup?. Untuk makan?, untuk lahir, sekolah, bekerja, berumah tangga, punya anak?. Untuk menikmati hidup seperti foya-foya, menyalurkan hasrat biologi?. Ini realitas hidup. Lantas jawablah pertanyaan mendasar ini, untuk apa kita hidup karena setelah hidup pasti kita akan mati. Lantas setelah mati kemana kita pergi. Saya yakin yang membaca tulisan saya ini adalah orang-orang beragama, terserah agamanya apa. Setiap agama pasti akan membicarakan kehidupan setelah kematian. Apa itu…., surge atau neraka. Dua pilihan yang kita tentukan sendiri dimana semua itu diputuskan ketika kita hidup sebab setelah kita mati maka kondisi atau keadaan kita sewaktu hidup sangat menentukan bakalan kemana kita setelah mati. Jadi berarti sangatlah penting bagi kita untuk lebih memperhatikan kehidupan rohani kita ketimbang kita melulu hanya memikirkan persoalan kehidupan duniawi kita.
Judul diatas mengingatkan kita untuk jangan asl hidup dengan maksud agar kita seharusnya lebih memikirkan keadaan rohani kita. Dari paparan pemnjelasan singkat diatas bisa disimpulkan bahwa hidup ini bersifat sementara. Semua agama percaya dan tahu bahwa hidup diduni ini hanya bersifat sementara. Sekarang saya ajak kita untuk berpikir lagi. Jika hidup didunia ini bersifat semnetara berarti ada batasan umur manusia. Artinya manusia tidaklah hidup selamanya, bahwa sanya hidup ini tidaklah kekal. Buktinya apa?. Secara genetika umur manusia itu terbaytas dimana DNA sebagai pembawa sifat manusia itu mempunya batasan hidup lebih kurang 110 tahun. DNA adalah pembawa sifat, yang berarti penentu bagaimana organ-organ tubuh bekerja sesuai dengan karakter masing-masing organ. Jika DNA sebagai penentu bekerjanya organ tubuh manusia hanya 110 tahun ini berarti organ-organ akan berhenti bekerja setelah DNA mencapai usia maksimalnya. Ini bisa kita identikkan dengan umur harapan hidup manusia dimasing masing Negara. Tergantung tingkat kemakmuran, kesejahteraan, kwalitas pelayanan kesehatan, factor makanan serta gaya hidup (life stile) suatu bangsa. Nah diindonesia sendiri umur harapan hidupnya berkisar antara 67-72 tahun. Artinya rata-rata penduduk Indonesia bisa mencapai usia maksimal 67-72 tahun.
Nah sekarang kita kembali menilik tentang pentingnya kita memprioritaskan kebutuhan rohani kita dan bukan malah sebaliknya. Jika usia kita maksimal 72 tahun berarti kita akan mati stelah itu. Lantas kalau kita mati ( walaupun kematian merupakan rahasia Tuhan) berarti kita harus sudah mengetahui kita akan berada dimana, surga atau neraka….?. nah inilah maksud dari judul diatas, jangan asal hidup. Lihatlah pola yang sering kita lakukan. Kita lebih takut untuk member kepada sesame kita karena kita taku tidak makan atau kita takut kebahagiaan kita direnggut padahal kita hanya diminta untuk memberi sedikit dan lagipula Tuhan sudah berjanji akan memberi kelimpahan jika kita memberi. Lukas 6:30 : “Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu”. Itu kalau kita yang memberi, belum lagi kalau kita dimintai oleh saudara kita sesame manusia, belum lagi kalau kita dipinjami. Mau tau apa yang sering kita lakukan kepada saudara kita?. Ada dua cara yang sering kita lakukan, cara baik-baik dan cara kasar. Cara baik-baiknya kita sering dengan menggunakan kata “maaf” diawal kalimat penolakan kita. Begini kalimatnya “maaf, saya tidak punya uang” atau “maaf saya tidak punya”. Nah kalimat kasarnya ini sering dilakukan oleh orang-orang sombong seperti: “enak aja, emangnya uang itu daun mudah didapat?” dan lain - lain dan lain-lain. Padahal Tuhan sudah memerintahkan kita untuk memberi jika ada yang meminta, untuk kita tidak meminta kembali kepada yang meminjam kepada kita. Tuhan bukan hanya memberi perintahi tanpa member jaminan. Tuhan berjanji kepada kita jika kita me;lakukan semua itu (perintahNya itu, maka Dia akan member kelimpahan berkat pada   kita. Lukas 6:38 “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu". Lantas kalu sudah seperti ini ceritanya bisa disimpulkan bahwa kita lebih takut dengan dunia ini dari pada dengan TUhan. Kita lebih percaya dunia ini daripada dengan janji-janji Tuhan. Pasti jawabannya itukan masih janji sementara dunia ini kita punya kebutuhan. Betu….itu memang betul tapi semua itu bisa terjadi, jika kita percaya, cukup percaya saja maka kita laksanakan perintahNya dan kita pasti menerima janjinNya, itu pasti. Saya pernah mendengar sepenggal kalimat seorang yang sukses dan merupakan salah seorang terkaya diIndonesia yang mengatakan, “kau tidak akan menjadi miskin dengan memberi, bahkan sebaliknya kau akan mendapat lebih banyak dengan memberi”. Ini merupakan salah satu bukti dari aplikasi nats Tuhan itu. Lukas 6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah.
Itu masih soal memberi, masih banyak perintah-perintah lain yang harus kita perhatikan dan kita laksanakan. Perintah-perintah itu bukanlah perintah semata, perintah itu bertujuan untuk membawa kita kepada upah kita disurga nanti. Kejayaan kita disurga tergantung bagaimana kita melaksanakan perintah Tuhan. Perintah itu juga bukanlah perintah duniawi, itu perintah surgawi yang juga bukan berasal dari orang yang berdosa yang tidak menepati janjinya, perintah itu bersumber dari sang pencipta, sang Maha Kuasa, dari sang maha pengasih yang tak pernah meninggalkan atau mengingkari janjiNya. Masih banyak perintah lainnya, mengasihi musuh. Lukas 6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; 6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu, mengampuni dan jangan menghakimi sesama, Lukas 6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
Jadi saudaraku marilah kita bertobat, kembali kejalan yang semestinya yakni kembali ketujuan hidup kita yaitu untuk dapat hidup dengan baik didunia maupun diakhirat nanti. Hidup yang saat ini kita jalani didunia ini adalah hidup yang sementara, daging akan mati tetapi roh akan tetap hidup. Jadi hendaknya kita hidup dengan roh, memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohani kita sebagai ucapan syukur kita atas penebusan Tuhan yang telah menumpahkan darahNya dikayu salib demi menebus saya dan saudara, demi menguduskan saudara dan saya sebab hanya kekudusanlah yang dapat bertemu dengan Tuhan yang Maha Kudus dan juga sebagai bekal kita disuga nanti. Jadi saudaraku, jangan asal hidup, fokuskan hati, pikiran, dan perbuatan kita pada semua keinginan Tuhan Allah Bapa kita yang telah melayakkan kita, sebab Dia baik.

INGATLAH UNTUK PULANG…. Oleh: Edison Siringoringo


Dari balik tirai kulihat matahari mulai redup, sudah mulai malam rupanya.
Tetapi mengapa kuncup yang disana tak kunjung mekar padahal matahari berlelah menyinarinya, memberinya kekuatan untuk membuka kelopaknya satu persatu
Namun…. mengapa dia hanya diam?, dia begitu menikmati keadaannya yang saat ini
Begitu nyaman terasa hingga tak dirasanya hari tlah senja. Aku sedikit khawatir dengan keadaannya sebab aku tahu waktunya tak banyak lagi, sebab aku tahu setelah ini dia akan layu lalu kering dan debunya sirna ditiup angin yang memang sengaja melenyapkannya.
Mengapa ia tak mekar segera?, padahal dia bisa menyenangkan setiap orang dengan aromanya. Megapa dia tidak mekar saja yang dengan keindahan kelopak dan warnanya dapat memberi rasa nyaman bagi siapa saja yang melihatnya?.
Waktunya hampir habis tapi masih ada, segera mekarkan kelopakmu agar kau berguna bagi semua sebab jika tidak kau tak berarti apa-apa. Pemilikmu telah menyediakan tempat yang lebih indah, segeralah mekarkan kelopakmu selagi masih ada waktu yang tersisa……….


Puisi diatas mengandung arti singkat tentang pertobatan, pertobatan yang merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

Pertobatan merupakan pembaharuan hidup sehingga kembali kepada Tuhan (kamus Alkitab). Pertobatan berarti pula kembali kejalan yang benar dan jalan yang benar dimaksudkan adalah jalan Tuhan tentunya. Bisa kita bayangkan maksud kembali kejalan yang benar jika kita tidak lakukan maka ada konsekwensi yang akan kita terima. Seandainya kita berjalan jauh mencari suatu alamat yang benar tetapi karena tidak tidak mengenal jelas jalan yang akan kita lalui maka tak palak lagi pasti kita akan kesasar, kita seakan berjalan menyusuri sesuatu yang tidak pasti. Kondisi kita semakin gak karuan, kita menjadi bingung, kelelahan, mungkin lapar, haus, lemas, muter muter menyusuri jalan yang sama, dsb. Nah kalau kita diperjalanan ternyata mendapatkan petunjuk atau alamat yang jelas maka kita akan berusaha untuk kembali kejalan yang benar dan itu membutuhkan beberapa konsekwensi. Mungkin ini beberapa konsekwensi yang kita dapati:
  1. Kita perlu cadangan makanan atau minuman atau uang atau pakaian yang kita miliki karena kita bakal lama diperjalanan
  2. Kita perlu waktu yang banyak untuk dapat kepada tujuan kita jika kita kembali kejalan semestinya walaupun untuk itu tergantung jauh tidaknya jalan yang sudah terlewati. Semakin pendek jaraknya semakin sedikit waktu yang diperlukan dan semakin jauh berarti semakin banyak waktu yang dibutuhkan.
  3. Kita perlu kendaraan untuk mempersingkat jarak tempuh kembali
  4. Kita perlu tenaga yang extra banyak untuk dapat kembali yang pasti kita akan kelelahan jika kembali kejalan yang semestinya
  5. Kita butuh fisik yang fit atau kesehatan yang memadai untuk dapat kembali kejalan yang seharusnya
  6. Kita butuh emosional yang stabil sebab jika tidak maka kita akan menjadi orang yang sangat emosional saat kita salah jalan
Nah konsekwensi diatas bisa disetarakan dengan pertobatan yang akan kita lakukan. Pertobatan itu memerlukan:
  1. Kita butuh makanan dan minuman rohani kita sebagai bahan untuk kekuatan kita melakukan perintah Allah. Ini yang paling utama, makannan dan minuman yang dimaksudkan disini bukanlah makanan dan minuman seperti yang biasa kita makan dan minum setiap harinyamelainkan firman dan perintah Allah. Semua itu ada didalam Alkitab kita tinggal membaca dan mencari tahunya saja sebab Tuhan kita Yesus Kristus telah menyampaikan segalanya sewaktu Dia menjadi manusia dan berada didunia ini.
  2. Kita perlu fisik yang baik untuk melakukan pertobatan. Kita butuh tenaga untuk melakukan perubahan besar dalam diri kita yang telah dikacaukan oleh sifat jahat kita, sifat tidak tahu berterimakasih kita. Untuk itu mintalah kekuatan kepada Tuhan agar kita dikuatkan dalam melakukan pertobatan kita.
  3. Kita butuh waktu untuk melakukan perbuatan baik sebagai bukti pertobatan kita sebagai ucapan syukur atas penebusan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Mintalah kepada Tuhan agar kita diberi waktu untuk menjalankan perintahNya.
  4. Kita perlu psikologi yang stabil. Mintalah kekuatan kepada Tuhan ketika kita gundah gulana, ketika kita marah, ketika mood kita kurang baik. Sebab kenyataannNya kita dapat mengaplikasikan firman yang kit abaca jika kita dalam kondisi psikologi yang stabil. Mintalah Tuhan untuk memenuhi diri kita dengan RohNya sehingga kita senantiasa dijaga baik tubuh maupun jiwa. Biarkan Darah Yesus yang tertumpah menyucikan tubuh dan jiwa kita maka kita akan terjaga secara fisik dan mental.
Nah kalau sudah seperti ini, kita sudah paham dan menyadari akan pertobatan maka kita akan lebih mudah untuk menjalankan missi pertobatan kita. Tak cukup hanya kemauan yang kuat untuk melakukan suatu pertobatan tetapi pengetahuan yang cukup (yang bisa kita akses dari alkitab) serta kemampuan secara fisik dan psikologis untuk melakukannya kita harus punya.
Pertobatan yang berarti kembali kejalan yang benar diperlukan dan sangat diperlukan karena kita telah lari atau keluar dari jalan yang semestinya yakni jalan yang diharapkan oleh Allah agar kita layak dihadapannya. Kita tidak hanya baik tapi harus kudus karena kekudusan hanya dapat bertemu dan bersatu dengan sesuatu yang kudus. Ketidak kudusan akan lenyap jika berhadapan dengan sesuatu yang kudus. Allah itu kudus dan kita ciptaanNya haruslah kudus agar dapat kembali kepadaNya untuk bertemu dan hidup bersama-sama dengan Allah. Pertanyaannya adalah, apakah kita telah kudus dan layak bertemu dengan Allah?, apakah perbuatan baik kita telah menguduskan kita?. Tidak….., tak satu manusiapun yang kudus, tak satu manusiapun yang baik, tak satu manusiapun yang baik, semuanya berdosa. Sebab Hukum Allah adalah mutlak, dosa tetaplah dosa. Tak ada satu perbuatan baik apapun yang dapat membatalkan dosa dan menguduskannya. Tak ada satu ritual keagamaan apapun yang dapat membatalkan dosa. Hanya Allah yang kudus yang dapat menguduskan sesuatu, hanya kehendakNya sajalah yang dapat menguduskan kita. Ya…..karena kasihNya, karena Dia mau, kitapun akhirnya disucikan olehNya sendiri. Dengan daragNya yang tertuang dikayu salib telah menjadi darah perjanjian atas penebusanNya. Jadi, jika kita mengingat kematian Yesus dikayu salib, maka ingatlah bahwa semua orang yang percaya telah ditebusNya dari dosa, telah disucikanNya, telah dikuduskanNya agar kita layak dihadapanNya. Itulah makna darah perjanjian. 

Beberapa poin yang perlu diperhatikan pada pertobatan:
  1. Perlunya Yesus sebagai penebus akan dosa-dosa kita
  2. Kesadaran akan perlunya pertobatan
  3. Penyesalan akan dosa-dosa kita
  4. Adanya surga sebagai tujuan akhir
  5. Waktu yang tersisa semakin sempit
  6. Perbuatan baik kita adalah konsekwensi dari penebusan oleh Kristus Yesus dan bukan perbuatan kita yang menguduskan kita
Bagaimanakah caranya bertobat?
  1. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu dengan percaya dan mengaku dengan mulutmu. Percaya bahwa Yesus adalah firman Allah yang hidup (Allah yang telah menjadi manusia), Dia telah mati disalibkan, bangkit dari kematian, dan naik kesurga serta berjanji akan datang kembali untuk membawa orang-orang yang percaya kepadaNya.
  2. Tinggalkan pola hidup kita yang selama ini salah dan jelas-jelas salah.
  3. Berbuat baiklah layaknya orang yang telah dikuduskan. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa bukanlah perbuatan baikmu yang telah menyelamatkanmu, yang telah menguduskanmu, yang telah melayakanmu melainkan kematian Yesus diatas kayu salib, pengorbananNya, curahan darahNyalah yang telah memantaskanmu dihadapan Allah. Perbuatan baik sebaik apapun tidak akan pernah dapat melayakanmu dihadapan Allah jika tidak karena pengorbananNya. Lagi pula, seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, tidak ada manusia yang baik dan hukum Allah sangatlah jelas bahwa sekecil apapun dosa yang kau perbuat itu pasti akan melanggengkanmu masuk kedalam neraka, ketidak pantasan dihadapan Allah. Lantas adakah gunanya kebaikanmu yang super baik itu diatas perbuatan dosamu?. Tidak, sama sekali tidak berguna karena dosa kecilmu telah menggiring dan memantaskanmu masuk kedalam neraka. Lantas masih tidak maukah kita berbuat baik sebagai ucapan syukur kita atas penebusanNya?. Jadi berbuat baiklah selayak orang yang telah mendapat pengampunan sebab perbuatanmu tidak lagi menentukan apakah kau layak masuk kedalam surge atau tidak tetapi mutlak karena penebusanNya. Lantas kenapa masih ragu, jika kamu memang sudah mengetahui fakta kebenarannya bahwa dialah satu - satunya jalan ( Akulah jalan kebenaran, dan hidup. Tidak ada yang datang kepada Allah kalau tidak melalui Aku) menuju surgaNya?. Mengapa kita masih juga memperdebatkan segala sesuatunya termasuk keabsahan keTuhanan Yesus Kristus. Saya yakin semua manusia mempunyai kemampuan untuk meyakini/atau mempercayai sesuatu. Percaya itu melebihi apa yang tampak bahkan yang abstrak sampai semu sekalipun dapat kita percayai. Lihatkan keberagaman keyakinan/kepercayaan yang melandasi agama diIndonesia ini?. Berbagai aliran namun semuanya dilandasi keyakinan. Jika demikian berarti kita juga bisa mempercayai keTuhannan Yesus Kristus. Allah yang sebagian kepercayaan mempercayai keberadaan Dia yang tidak nyata mengapa kita tidak bisa meyakini kalau Dia juga bisa menjadi manusia. Semua ini kuncinya adalah Iman.
Jadi saudaraku, jangan kerdilkan imanmu, semakin banyak kita mempercayai sesuatu yang mustahil, ganjil, tidak nyata, semu, abstrak, berarti bisa dipastikan semakin besarlah imanmu. Tuhan Yesus berkata jika kamu punya iman sebesar biji sesawi maka kamu bisa memindahkan pohon ketengah lautan dan mengembalikannya ketempatnya kembali. Ini adalah sesuatu yang mustahil dan hanya iman yang membuatnya mungkin. Tuhan juga berkata, percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri, amin Tuhan Yesus memberkati. 

APAPUN KEADAANMU, BERDOALAH…. Oleh: Edison Siringoringo


Hidup seperti debu yang sepintas saja boleh berlalu saat angin meniup. Segalanya boleh terjadi dan dimungkinkan untuk terjadi, baik susah maupun senang. Hidup tak selalu seperti apa yang kita inginkan, kadang masalah menerpa, kadang suka cita berlebih. Bukan itu yang penting, saat masalah menerpa, saat duka bersuka ria diatas hidup yang kering kerontang, saat itu kita butuh kekuatan, butuh penghiburan agar tak sampai jatuh tergeletak dan tak bangkit lagi. Bukan itu saja, saat masalah merajai hidup sejalan dengan itu pula duka hadir turut memporak porandakan hidup yang awalnya tersusun indah, rapid dan sejahtera. Muncul sejumput pertanyaan, mengapa ini terjadi?. Sejumput diikuti jumput-jumput pertanyaan yang lain seperti, mengapa ini terjadi padaku?. Kita butuh kekuatan untuk bangkit mengalahkan himpitan ketakutan dan dera masalah. Dimanakan tempat kaki ini berdiri, dia sudah gemetar?, dimanakah tempat kepala ini bersandar, dia sudah kaku?, dimanakah tempat hati ini menaruh harapan saat mata tak henti mengeluarkan tetesan kesedihannya?. Tak ada tempat. Ketika teman manusiaku yang kusebut saudara kumintai belas kasihnya, aku mendapatkan jawaban yang tak sesuai keadaannya. Ada juga yang bersedia memberiku penghiburannya tapi itu hanya sesaat. Satu kali dia begitu bersemangat member, dua kali semangatnya sudah mulai memudar, tiga kali wajahnya tlah berubah dan menyerah pada saat keempat kali. Mulai berdalih dan mencoba menonjolkan jati diri. Oh…. Aku lupa….aku melupakan bahwa aku masih memiliki Tuhan penciptaku yang kutau Dia yang memeliharaku. Dia tak pernah jemu mendengar keluhanku, Dia tak pernah pamrih ketika memberi. Dia tak pernah bosan mendengar ocehanku. Dia selalu memberiku senyumanNya saatku bicara macam-macam. Aku hanya berdoa…., ya aku hanya perlu berdoa……
        Ya…..hanya berdoa. Mungkin inilah jawaban atau solusi atas permasalahan apapun yang menerpa kita. Hanya saja, kita tidak hanya saat punya masalah baru berdoa. Saat senang hati juga harus berdoa, itu namanya doa ucapan syukur. Kadang kala saat kita memiliki masalah kita sering terlalu terfokus pada masalah kita yang cenderung melahirkan segudang kekhawatiran. Kita sering melupakan Tuhan dalam setiap permasalahan kita. Tuhan hanya tersentyum melihat kebodohan kita yang menggunakan kekuatan kita yang terbatas sering kita guakan untuk menghadapi permasalahan yang seang kita hadapi. Dalam ilmu psikologis dikatakan, jika ingin mencapai homeostasis (keseimbangan dalam kejiwaan) maka kita perlu menakar kekuatan dengan masalah yang ada. Diistilahkan seperti ini: jika ingin menantang arus, ukurlah kekuatanmu. Jika kau sanggup tantanglah dan jika tidak ikutlah arus maka kau akan selamat. Sebab kau tak perlu mati kehabisan tenaga untuk melawan arus yang keras. Hal ini sangat bernilai pskologis dan relegius. Saat kita menantang dengan menggunakan kekuatan kita maka kita akan mati kehabisan tenaga karena kekuatan kita sangat terbatas dibandingkan dengan kekuatan arus yang semakin lama bukan semakin berkurang tetapi semakin kuat. Tetapi jika kita membiarkan tubuh kita diam dan mengikuti gerakan arus kemanapun dia pergi maka niscaya kita akan selamat. Mengapa demikian?, karena jika kita membiarkan tubuh diam itu berarti mengijinkan kekuatan lain bekerja membantu kita. Dalam hal ini kita sinergiskan dengan kehidupan permasalahan kita. Jika kita menggnakan kekuatan kits untuk mengatasi masalah kita maka kelelahanlah yang kita dapati dan masalah tidak akan selesai malah semakin berat. Tetapi jika kita melibatkan Tuhan Yesus dalam setiap permasalahan, perkara kita maka kita akan dengan cepat dapat mengatasi permasalahan kita. Terkadang kita berpikir sempit dengan hanya menggunakan rasionalitas berpikir kita untuk menghadapi permasalahan. Kadang kita memustahilkan segala jalan yang berbau religious hanya karena rasionalitas, jangan pernah menggabung kan rasionalitas dengan kehidupan rohaniah kita karena itu tidak akan mungkin bersatu, tidak akan mungkin sejalan. Rasionalitas menuntut bukti sedangkan iman sama sekali tidak membutuhkannya. Hanya cukup percaya…..
Rasionalitas dan iman/kepercayaan/keyakinan sama seperti dua sisi mata uang logam yang tidak akan pernah pada sisi yang sama, tidak akan pernah ketemu. Rasionalitas dan iman ada dalam kehidupan kita. Saat kita menggunakan kekuatan pikiran atau rasionalitas kita maka sebagai konsekwensinya kita memerlukan extra tenaga, extra pengetahuan, extra kepintaran, extra mitra dan ekstra-ekstra yang lain. Tetapi saat kita menggunakan kekuatan iman kita itu berarti membiarkan Tuhan Yesus bekerja membantu setiap perkara kita. Hanya saja kita sering lama berkubang pada ketidak percayaan kita pada Tuhan dan lebih mengandalkan kekuatan kita yang tak seberapa. Tuhan hanya mengatakan bahwa; Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan jangan bersandar pada pikiranmu sendiri. Pikiran disini berarti rasionalitas. Jadi jelas, silahkan memilih, menggunakan kekuatan rasionalitas kita atau membiarkan Tuhan dengan kekuatanNya yang tak terbatas itu membantu menyelesaikan setiap perkara kita, apapun itu. Bagaimana bisa….?, itu bukan urusan kita lagi ketika kita telah menyerahkannya kepada Tuhan. Caranya….?. Berdoa….ya hanya berdoa.
        Jika kita berdoa itu berarti kita telah menyampaikan segala perkara kita kepada Tuhan, berupa permasalahan, itu berarti kita telah menyerahkan seluruhNya kepada Tuhan. Itu bukan lagi bagian kita. Kita telah melakukan bagian kita dengan berdoa, selebihnya adalah bagian Tuhan. Cukup hanya percaya…., semua permasalahan kita akan dia selesaikan. Ini bukan kata saya tetapi ini adalah janji Tuhan kepada kita.
Matius 7:7 Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Matius 7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari , mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu akan dibukakan.
Matius 21:22 Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.
1 yoh 5:14 Dan inilah keberanian kepercayaan kita kepada-Nya, yaitu bahwa ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
Jangan pernah ragu saudaraku, Tuhan kita bukanlah Tuhan pembohong, janji Tuhan bukanlah seperti janji kita manusia, yang selalu diingkari, janji Tuhan selalu ia dan amin.